Penayangan bulan lalu

MENYATUKAN ISLAM DALAM PERBEDAAN

Minggu, 17 Juli 2011

Kritik Ibn Taimiyyah Terhadap Filsafat Al-Ghazali



Pendahuluan
Disamping fitrah untuk beragama yang ditanamkan Tuhan dalam jiwa manusia semenjak masih berada dalam rahim, manusia juga dibekali fitrah untuk berfikir yang merupakan sebuah potensi dahsyat dalam diri manusia, potensi ini bukan hanya membedakan manusia dengan makluk Tuhan yang lainnya, sebutlah tumbuhan, hewan, benda-benda mati, atau bahkan malaikat dan jin, lebih dari itu sekaligus mengantarkan manusia pada capaian-capaian kehidupan yang sangat mengagumkan secara spiritual maupun material, tersirat secara jelas dalam firman Allah SWT.:
وإذ قال ربك للملائكة إنى جاعل فى اللأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من  يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إنى أعلم ما لا تعلمون
 ( البقرة: 30)[1]
Dalam ayat ini Allah menjawab keraguan malaikat yang mengkhawatirkan akibat negatif dari penciptaan manusia sebagai penguasa (khalîfah) di dunia, dengan ucapannya: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui", kata-kata ini mengisyaratkan adanya potensi yang besar dalam diri manusia yang bahkan tidak diketahui para malaikat, sampai kemudian Allah SWT.memerintahkan Adam untuk membuktikannya dengan firman-Nya:
قال يا أدم أنبئهم بأسمائهم……(البقرة: 33)[2]
Bahwa potensi itu adalah rasionalitas yang berpadu dengan spiritualitas, rasionisasi yang menggerakkan spiritualitas ini, juga yang menggerakkan manusia untuk bertanya dan mencari sekian juta hal yang memenuhi kehidupannya; tentang alam, kehidupan, kematian, pencipta, masa depan dan sebagainya. Namun tidak berarti fitrah rasionalitas ini berjalan tanpa problem, dimana pada perjalanannya kita bisa melihat kasus-kasus historis yang menghadapkan kepada kita betapa kegagalan rasionalitas itu pula yang menjerumuskan manusia kedalam liang-liang penghancuran dirinya sendiri, kita bisa ambil contoh dari pengandaian sebagian manusia bahwa kemampuan akal manusia dapat mengurai dan memecahkan segala sesuatu telah melahirkan kaum atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan.
Pembahasan
A.    Sekilas Filsafat Islam
Filsafat Islam muncul sebagai imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran dari buku-buku peradaban Yunani dan peradaban-peradaban lainnya pada masa kejayaan Daulah Abbasiah, dimana pemerintahan yang berkuasa waktu itu memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan ini, sehingga para ulama bersemangat untuk melakukan penerjemahan dari berbagai macam keilmuan yang dimiliki peradaban Yunani kedalam bahasa Arab, dan prestasi yang paling gemilang dari gerakan ini adalah ketika para ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat yang mejadi maskot dari peradaban Yunani waktu itu, baik filsafat Plato, Aristoteles, maupun yang lainnya.
Sebenarnya gerakan penerjemahan ini dimulai semenjak masa Daulah Umawiyyah atas perintah dari Khalid bin Yazid Al-Umawî untuk menerjemahkan buku-buku kedokteran, kimia dan geometria dari Yunani, akan tetapi para Ahli Sejarah lebih condong bahwa gerakan ini benar-benar dilaksanakan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiah saja, dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Manshur (136-158 H) hingga masa pamerintahan Al-Ma'mun (198-218 H).[3]
Sebagaimana kajian Islam mengambil berbagai tema untuk bahan kajian tentang logika, etika, politik, metafisika dan lainnya, yang telah lebih dulu dikaji oleh bangsa Yunani, sehingga sangat dimungkinkan bahwa kajian-kajian filsafat islam dalam tema-tema ini dipengaruhi oleh filsafat Yunani, akan tetapi sesungguhnya filsafat Islam dalam beberapa sisi secara independen memiliki karakteristik yang berbeda dari filsafat Yunani.
Filsafat Islam bukanlah filsafat Aristotelian yang tertulis dalam bahasa Arab ataupun filsafat Platonisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dari upaya ahli kalam dari kelompok Mu'tazilah maupun Asyâ’irah untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang rasional, bahwa akal merupakan unsur penting dalam agama ini, sehingga mereka membungkus filsafat dalam baju keagamaan, dan dari situ mereka memahami agama Islam dengan corak filosofis.
Akan tetapi selanjutnya keinginan para filosof Islam untuk memperlihatkan agama Islam dalam suatu gambaran rasional menyebabkan mereka menafsirkan sebagian persoalan ke-islam-an yang bersifat ideologis (akidah) dengan teori-teori filsafat, hal ini oleh sebagian umat islam dipandang menyalahi cara berpikir dan akidah agama Islam, maka mulailah mereka mewaspadai dan mengkritik para filosof Islam tersebut.[4]

B.     Ke-Filosofan-an Ibnu Taimiyah
Sejak awal mula Ibn Taimiyyah menggeluti filsafat, tujuannya bukanlah untuk mendalami dan memahami ilmu ini untuk kemudian mengambil manfaat yang mungkin bisa diambil darinya, akan tetapi sebaliknya untuk mencari sisi-sisi kesalahannya untuk kemudian merubuhkan bangunannya, karena dalam pandangannya filsafat telah menjadi semacam penyakit yang menyerang pemikiran orang-orang Islam, bahkan ia berpendapat bahwa sebelum seseorang mendalami akidah Islam maka ia harus membersihkan diri dari segala hal yang berbau filasafat yang menurutnya dihasilkan dari kebohongan angan-angan dan bayangan , sikap Ibn Taimiyyah ini kalau kita telusuri lebih jauh merupakan dampak dari kondisi politik dan sosio-kultural masyarakat muslim pada waktu itu[5]
1.      Kondisi Politik
Pada abad ketujuh dan kedelapan yang merupakan masa penghabisan Daulah Abbasiah, kaum muslimin telah terpecah-belah dalam kerajaan-kerajaan kecil yang antara satu dengan yang lainnya saling memusuhi. Lebih dari itu, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapat ancaman besar dari tiga sisi: serangan bangsa Tartar dari arah timur (Mongolia), serangan pasukan Perang Salib yang terus mendesak dari arah barat, serta ancaman akibat perpecahan dari umat Islam sendiri, sampai-sampai Ibn Al-Atsir dalam kitabnya "Al-Kamil" mengatakan: "Agama Islam dan kaum Muslimin pada waktu ini benar-benar ditimpa oleh musibah yang belum pernah menimpa satupun dari umat-umat sebelumnya…".
2.      Kondisi Masyarakat
Sejak perang salib berkecamuk pada awal abad kelima Hijriah, terjadilah berturan-benturan peradaban antara barat (Eropa) dan timur (Arab), benturan-benturan ini dengan dahsyatnya berpengaruh terhadap kebudayaan, adat, pemikiran, bahkan kehidupan beragama. Begitu juga ketika bangsa Tartar mulai masuk dari arah timur dengan membawa kebiasaan, pemikiran, dan tabiat-tabiatnya. Benturan-benturan tersebut mengakibatkan disosialis yang berkepanjangan dalam berbagai aspek kehidupan kaum Muslim, ketakutan akan terjadinya perang menyebabkan terjadinya gelombang-gelombang pengungsi yang mengakibatkan bercampur-aduknya penduduk daerah satu dengan daerah yang lainnya, seperti penduduk Irak yang mengungsi ke Syam ketika bangsa Tartar menyerangnya, penduduk Mughol mengungsi ke Damaskus, yang kemudian bersama penduduk Damaskus mengungsi ke Mesir dan bahkan ada yang mengungsi sampai ke Maroko.[6]
Percampuran-percampuran secara terpaksa ini mau tidak mau ikut pula mencampur-adukkan corak kejiwaan, pemikiran, dan kemasyarakatan kedalam suatu adat (kebiasaan) yang berbeda, sehingga dari sini munculah suatu kumpulan "masyarakat terpaksa" yang tidak mempunyai pegangan dan ketenangan, dan kumpulan masyarakat ini terpusat di satu titik, yaitu Mesir.
3.      Kondisi Pemikiran
Sebelum masa Ibn Taimiyyah sudah banyak tersebar aliran-aliran pemikiran yang antara satu dengan yang lainnya tidak jarang terjadi perselisihan-perselisihan, hal ini menyebabkan terbentangnya jarak antara pengikut aliran yang satu dengan yang lainnya. Perpecahan tersebut mencapai puncaknya pada masa Ibn Taimiyyah (abad ketujuh sampai awal abad kedelapan), dimana pertentangan-pertentangan tersebut mengakibatkan terpecah-belahnya para ulama dalam berbagai golongan.
Di tengah keadaan ini, mencuatlah para filosof Islam yang berusaha mensinkronkan antara filsafat dengan agama sebagaimana dilakukan oleh para pengikut Ikhwan As-Shofa, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Di sisi lain muncul pula para ulama yang berusaha menggabungkan antara akal dan teks seperti Muhyiddin An-Nawawi dan Fakhruddin Ar-Razi, kemudian disusul dengan munculnya para sufi yang berusaha menggabungkan antara metode filsafat akal dengan kemurnian jiwa sampai kemudian berakhir pada filsafat jiwa (spiritisme), dimana ajaran-ajaran kesufian disokong penuh oleh pemerintahan yang berkuasa waktu itu sampai kemudian banyak bermunculan apa yang disebut Ibn Taimiyyah sebagai "khurafat", masyarakat yang terlalu mendewakan ulama, dan pengagung-agungan terhadap kuburan. [7]
Dari kondisi semacam ini timbul-lah perdebatan pemikiran yang amat sengit diantara para ulama, perang dalil dengan mengatasnamakan agama tidak dapat dihindari untuk mengalahkan dan menguasai lawannya demi kepentingan golongan, tanpa mencoba untuk saling mengerti dan memahami untuk kedamaian bersama.
Dalam milleu seperti inilah seorang Ibn Taimiyyah tumbuh, dengan berbekal latar belakang keluarga sederhana -pengikut Imam Ahmad bin Hambal- yang memegang teguh ajaran agama serta keceerdasannya, ia keluar dari sarangnya untuk meluruskan ajaran-ajaran agama yang dianggapnya sudah melenceng jauh dari pakem yang seharusnya dilalui, khususnya dalam bidang filsafat dan penggunaan akal manusia yang melampaui batas. iapun banyak bertentangan dengan para ulama-ulama besar waktu itu, ini dapat kita lihat dalam karya-karyanya yang banyak mengkritik Ibn Sina, al-Razi, al-Asy'ari, al-Ghazali sampai Ibn Rusyd baik dalam mantiq, filsafat maupun tasawwufnya.



C.    Kritik Ibn Taimiyah Terhadap Filsafat al-Ghazali
Berbeda dengan Ibn Taimiyyah, Al-Ghazali mempelajari dan mendalami filsafat adalah untuk menyingkap kebenaran-kebenaran yang mungkin akan ditemukan didalamnya, yang mana dalam hal ini ia berpedoman, bahwa keraguan adalah sarana untuk sampai pada keyakinan. Setelah mendalami filsafat ia mendapatkan kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan oleh para filosof, maka kemudian ia mencoba untuk keluar dari filsafat dan kembali kepada agama serta menenggelamkan dirinya dalam dunia kesufian untuk selanjutnya menggunakan pengetahuannya tentang filsafat untuk menyingkap kesesatan-kesesatan para filosof dalam karyanya “Tahâfut Al-Falâsifah”.
Akan tetapi pada kenyataannya Al-Ghazali tidak bisa benar-benar lepas dari filsafat, dimana dalam jiwanya masih tersisa pengaruh filsafat, karena ketika ia memutuskan untuk meninggalkan filsafat, pikirannya sudah terbentuk kedalam pola pemikiran filsafat, bahkan kemudian ia mengambil filsafat sebagai unsur dasar dalam memperlajari suatu disiplin ilmu, karena suatu disiplin ilmu tidak akan lahir kecuali dengan adanya filsafat, dan hanya dengan filsafat-lah suatu disiplin ilmu akan dapat dipahami secara sempurna.
Analisa Ibn Taimiyyah diatas agaknya lebih didasari oleh ketakutannya akan pengaruh-pengaruh luar yang ia rasa dapat mengancam kemurnian dan kesucian kepercayaan yang diyakininya, hal ini sebenarnya masih dalam batas-batas kewajaran melihat latar belakang keluarganya yang dengan teguh berjalan diatas rel madzhab Hanbali, seorang murid Asy-Syafi'i yang terkenal memegang teguh ajaran-ajaran Alqur'an dan As-Sunnah, dimana sudah sepatutnya baginya untuk mempertahankan keyakinannya dalam kondisi yang morat-marit akibat peperangan yang berkepanjangan dan benturan peradaban yang sedikit banyak mengakibatkan menimbulkan pesimisme terhadap sebagian besar kaum muslim.
D.    “Alam dan Jism” Al-Ghazali dalam Pandangan Ibn Taimiyyah
Ketika Al-Ghazali menjelaskan tentang kesalahan kaum filosof tentang pengingkaran Wujud Yang Pertama sebagai jisim, dikarenakan mereka mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang kadangkala mengharuskan penggabungan antara dua hal yang bertentangan, atau kadangkala membuang keduanya, maka disini Ibn Taimiyyah mengkritik dalil-dalil yang digunakan Al-Ghazali dan pengikutnya yang hanya memasukkan sedikit saja dalil-dalil Qur’an dalam penjelasannya, ia menganggap Al-Ghazali dan pengikutnya seolah-olah tidak mengetahui atau mengabaikan dalil-dalil Qur’an yang dianggapnya lebih cocok untuk diterapkan.
Sebagaimana dalam masalah kejadian alam dimana Al-Ghazali dan pengikutnya hanya memfokuskan kritikannya pada dua ungkapan kaum filosof:
1. Ungkapan tentang hal lebih dulunya alam (Qidam Al-‘Alam), dimana menurut para filosof apabila hal ini muncul dari adanya sebab yang mewajibkannya, maka akibat harus bergandengan dengan sebabnya dalam hal kekekalan dan keabadiannya.
2. Ungkapan bahwa perkara yang dikerjakan munculnya dibelakang penciptanya, dan bahwa pencipta tidak boleh selalu bersabda dan berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya.
Kemudian Ibn Taimiyyah membeberkan bahwa dalam pandangannya Al-Ghazali dan pengikutnya mengabaikan ungkapan yang benar yang telah disepakati oleh ulama salaf, bahwa akibat datangnya selalu mengiringi Sang Maha Penyebab, dimana apabila ia berkehendak mencipta sesuatu, maka sesuatu itu akan muncul mengiringi penciptaan itu, sebagaimana sabda-Nya:
إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون (يس:82)[8]
 “Sesungguhnya perintahnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘jadilah’ maka terjadilah ia”
Dan inilah yang menurut Ibn Taimiyyah bisa dicerna oleh akal, yang menurutnya hanya boleh menerima hal-hal yang sederhana dan pasti (badihi), sebagaimana jatuhnya talak beriringan dengan pentalakan dan datangnya kebebasan beriringan dengan pembebasan. Maka yang Allah SWT inginkan akan terwujud dan yang tidak ia kehendaki tak akan pernah ada. Sudut pandang lain Ibn Taimiyyah terhadap filsafat
Kita semua hampir sepakat bahwa Ibn Taimiyyah merupakan sosok ulama yang menentang filsafat dengan keras, juga terhadap segala pemikiran keagamaan yang dibumbui oleh campur tangan akal. Akan tetapi kalau kita menelusuri lebih jauh sosok ini, kita akan menemukan warna yang berbeda dalam pendapatnya, warna yang menurut penulis menunjukkan kapasitas kaulamaannya secara murni tanpa dipengaruhi oleh gejala politik dan sosio-kultural yang berkecamuk pada zamannya, hal ini terungkap ketika ia menjelaskan tentang kemungkinan masuknya akal pada kehidupan agama dalam menjelaskan makna ayat-ayat Allah SWT, dengan batasan tidak untuk mengurai Dzat Allah SWT. Coba kita simak ungkapannya berikut ini:
“Adapun pengetahuan tentang makna ayat-ayat yang disampaikan Allah SWT selagi tidak dalam lingkup ketuhanan-Nya, maka pemikiran dan perkiraan bisa masuk kedalamnya, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an. Karena itulah, banyak dari ahli ibadah dan kaum sufi yang menganjurkan untuk melanggengkan dzikir dan menjadikannya sebagai pintu untuk sampai kepada kebenaran, hal ini akan lebih bagus apabila digabungkan dengan bertadabbur atas kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan banyak juga dari para pemikir dan ahli kalam yang menganjurkan untuk selalu berpikir dan merenung sebagai jalan untuk mengetahui kebenaran. Kedua metode ini mempunyai sisi kebenaran masing-masing, akan tetapi masih membutuhkan kebenaran yang terdapat pada yang lainnya, dan keduanya harus dibersihkan dari kesesatan-kesesatan yang mungkin masuk dalam keduanya dengan cara mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Allah SWT dan para Rasul-Nya.”
Dalam lembaran lainnya Ibn Taimiyyah kembali membuktikan kapasitasnya sebagai seorang mujaddid dengan membagi ilmu dalam dua golongan:
1. Ilmu yang didapat dari akal. Seperti matematika, kedokteran, perdagangan dan sebagainya, yang selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu filsafat yang berupa mantiq, ilmu alam dan astronomi yang berasal dari India dan Yunani beserta ilmu-ilmu lain dari Romawi dan Persia, ketika masuk dalam dunia Islam, orang-orang Islam mengoreksi, memperbaiki dan menyempurnakannya dengan berbekal kekuatan akal dan kefasihan bahasanya. Maka menurutnya ilmu-ilmu ini dalam tangan kaum muslim menjadi lebih sempurna, lebih mencakup dan lebih gamblang, walaupun selanjutnya ia mengecualikan permainan akal dalam masalah agama, khususnya dalam masalah ketuhanan. 2. Ilmu yang dihasilkan dari petunjuk para Nabi dan Utusan, dimana ilmu ini tidak mengalami perubahan hingga sekarang.
E.     Telaah Filsafat Ibn Taimiyah
Ibn Taimiyyah mendapatkan pengetahuan tentang Filsafat dengan mempelajari filsafat Aristoteles (322-384 SM) dimana sebagian besar ulama muslim berkiblat kepadanya, sebagaimana yang telah penulis terangakan sebelumnya bahwa ibn Taimiyyah mempelajari filsafat bukan untuk mengambil manfaatnya akan tertapi untuk mencari titik kelemahan dari ilmu ini, dan setelah ia merasa cukup ia pun mulai memberontak terhadap ilmu yang dianggapnya sebagai ilmu orang-orang murtad ini, ia menggerakkan masyarakat disekitarnya untuk menentang keberadaan ilmu ini dalam dunia Islam, dengan menjelaskan bahwa filsafat  merupakan barang asing bagi ranah pemikiran Islam, dan untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam tidak membutuhkan ilmu ini.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa filsafat sama sekali tidak dapat digunakan sebagai timbangan kebenaran sebagaimana selama ini didengungkan oleh kaum filosof, karena menurutnya filsafat hanyalah berisi khayalan dan angan-angan.
Tidak cukup sampai disini, ia mengungkapkan bahwa sebenarnya para fuqaha sebelum masa Al-Ghazali memandang filsafat dengan pandangan kebencian dan penuh waspada terhadapnya dengan tujuan untuk menjaga ilmu Islam.
Ibn Taimiyyah menganggap bahwa Filsafat adalah pengantar kepada kesesatan, dan pengantar kesesatan adalah sesat, dan dia bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya bukanlah perkara yang diperbolehkan oleh Pembuat Syari’at, dan tidak ada satupun dari para Sahabat, Tabi’in, dan Imam Mujtahid yang memperbolehkanya, sebagaimana pula para Ulama Salaf dan pengikutnya”
Selanjutnya Ibn Taimiyyah mengkritik pengunaan istilah-istilah filsafat dalam khazanah keilmuan Islam: “ Sesungguhnya ini ( filsafat) merupakan suatu bentuk pengingkaran yang buruk dan model baru dari kebodohan.
Dan pada dasarnya hukum syari’at tidak membutuhkan filsafat, apa yang disangka pakar filosof tentang filsafat sebagai penentu pemahaman disiplin keilmuan adalah tidak benar. kepada setiap jiwa yang sehat, lebih-lebih dalam penggunaannya sebagai teori ilmu-ilmu syari’at. Karena ilmu syari’at telah sempurna dan para ulama sudah mendalami kebenarannya dengan sedetail-detailnya sehingga tidak dibutuhkan lagi ilmu filsafat beserta para filosofnya. Dan barang siapa yang menganggap bahwa ia mendalami filsafat dengan harapan mendapatkan manfaat darinya, maka sesungguhnya ia telah tertipu oleh syetan.”[9]
Ibn Taimiyyah juga menyerang filsafat dari segi ketidakmanfaatan ilmu ini, ia mengungkapkan bahwa tidak ada gunanya bagi seseorang mempelajari ilmu ini, baik itu secara keilmuan maupun teori, dengan dalih tidak ditemukannya satupun dari penduduk bumi yang berhasil menciptakan suatu ilmu dan menjadi pemuka didalamnya dengan berbekal ilmu filsafat, baik ilmu agama maupun lainnya. Dokter, Arsitek, Penulis, Ahli Statistik dan lainnya menurutnya mendalami keilmuannya dan mengeluarkan produknya tanpa pertolongan filsafat, sebelum filsafat datang pun para ulama Islam telah berhasil menyusun ilmu-ilmu nahwu, arudh, dan fiqh beserta ushulnya.
F.     Kesimpulan
      Dalam pandangan Ibn Taimiyyah, Filsafat adalah sesuatu yang berasal dari luar tradisi islam, yang tidak diajarkan oleh Rasul, para sahabat rasul, tab’in, tabi’ut tabi’in dan ulama salaf sebelumnya, sehingga dia menolak kebaradaan filsafat dalam tradisi keilmuan islam, yang dianggapnya sebagai gerbang menuju kesesatan.
Dia juga menganggap bahwa ilmu-ilmu dalam khazanah islam telah lahir tanpa ada campur tangan filsafat, sehingga tidak membutuhkan filsafat dalam memahami ilmu tersebut.
G.    Penutup
Dari berbagai uraian diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa watak dan ungkapan seseorang merupakan cerminan dari situasi politik dan sosio-kultural suatu masa, dimana semakin tinggi tingkat pressing suatu zaman terhadap apa yang dipangkunya, maka semakin kuat pula daya balik yang diakibatkannya, kondisi "masyarakat terpaksa" yang serba panik dicekam oleh ketakutan perang dan dibumbui oleh perpecahan intern sudah sewajarnya berdampak pada kejiwaan kumpulan masyarakat ini. Apalagi ditambah ruwetnya pertentangan antar pemikiran dan masuknya ilmu-ilmu dari peradaban lain. Maka yang agaknya menjadi fokus pertanyaan kita adalah:
"Tepatkah ungkapan-ungkapan atau fatwa-fatwa yang tumbuh dalam kondisi politik dan sosio-kultural semacam ini untuk diterapkan dalam kondisi yang menjadi latar belakang kita saat ini?". Sebuah pertanyaan dari penulis yang semoga bisa mengantarkan kita untuk terus mencari dan memahami berbagai kejadian histories, untuk kemudian kita bisa mengambil manfaat dari apa yang kita pahami, khususnya dari sosok Ibn Taimiyyah yang kita bahas saat ini, permohonan maaf dari saya apabila dalam tulisan ini masih terdapat banyak kesalahan.

H.    Daftar Pustaka

1.      Al-Qur’an dan Terjemahnya, Pustaka Al-Hidayah, Surabaya, 2002
2.      Fauzan Mashri Al-Muhammady, Dr. Al-Janib Al-Falsafi min Al-Hadharah Al-Islamiah, Daar Al-Hakim, Jakarta, 2004
3.      Sami bin Abdullah al-Mughluts, Atlas Perang Salib, Almahira,2009
4.      Ibnu Taimiyyah, Kaidah Ahlussunnah wal Jama’ah, (terj) Qoidatu Ahlussunnah wal Jama’ah, At-Tibyan, Solo, 2002
5.      M.M.Syarif, M.A, Para Filosof Muslim, Mizan, 1985
6.      Fuad Farid Ibrahim,Dr. & Abdul Hamid Mutawali,Dr. Cepat Menguasai Ilmu Filsafat (terj), IRCiSoD, Yogyakarta, 2003



[1] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Pustaka Al-Hidayah, Surabaya, 2002

[2] Opcit.
[3] M.M.Syarif, M.A, Para Filosof Muslim, Mizan, 1985

[4] Fauzan Mashri Al-Muhammady, Dr. Al-Janib Al-Falsafi min Al-Hadharah Al-Islamiah, Daar Al-Hakim, Jakarta, 2004

[5] Opcit.
[6] Sami bin Abdullah al-Mughluts, Atlas Perang Salib, Almahira,2009
[7] Fuad Farid Ibrahim,Dr. & Abdul Hamid Mutawali,Dr. Cepat Menguasai Ilmu Filsafat (terj), IRCiSoD, Yogyakarta, 2003
[8] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Pustaka Al-Hidayah, Surabaya, 2002

[9] Ibnu Taimiyyah, Kaidah Ahlussunnah wal Jama’ah, (terj) Qoidatu Ahlussunnah wal Jama’ah, At-Tibyan, Solo, 2002

Selasa, 21 Juni 2011

MENSYUKURI ANUGRAH






            “Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzabii  lasyadiid” jika kalian mensyukuri nikmat yang telah aku berikan maka aku akan menambahkannya akan tetapi jika kalian mengingkarinya maka sesungguhnya adzab Ku sangatlah pedih. Ini adalah petikan ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita untuk mensyukuri apa yang telah di berikan oleh Ar-Razaq Sang Maha Pemberi kepada makhluk –Nya, tapi apakah kita sadar bahwa semua ini adalah pemberia-Nya,kita bahkan lebih sering kufur daripada syukur dan tidak jarang kita merasa kurang dengan apa yang ada, sebuah pepatah mengatakan ‘Dunia dapat mencukupi semua makhluk yang berada di dalamnya tapi tidak cukup untuk memenuhi keinginan satu orang yang tamak’padahal Allah telah banyak memberikan apa yang apa yang kita inginkan, terkadang ketika kita berdo’a ingin kaya maka Allah memberikan kita pekerjaan, ketika kita ingin pintar maka Allah memberikan kita akal untuk berfikir, bahkan ketika kita tidak meminta apapun Allah tetap memberinya, seperti halnya rambut yang tidak pernah kita ucapkan dalam do’a agar selalu tumbuh, tapi Allah tetap memberikannya, sama halnya dengan udara yang tidak  pernah kita minta tetapi Allah tetap memberikannya kepada kita agar bisa bernapas, tapi semua itu sering kita lupakan keberadaannya dan tidak  pernah menyadarinya, apakah kita termasuk orang-orang yang akan di adzab oleh-Nya ? ‘Na’udzubillah min dzalik’ semoga kita bukan termasuk orang-orang yang sedemikian.
            Karunia Allah terlupakan , walaupun hanya untuk di ucapkan, lidah terasa mati untuk bersyukur, dan yang terjadi hanyalah kufur.
            Berapa banyak nikmat Allah yang kita lupakan?, berapa banyak perintah-Nya yang kita langgar?, hanya kerena iri dan haus akan materi duniawi, mata hati kita telah tertutup, tanpa mau memperhatikan berapa banyak saudara kita yang tak mampu membeli sesuap nasi, tetapi kita yang telah diberi kelebihan harta lebih suka menutup mata terhadap penderitaan mereka,seorang pejabat tidak akan pernah tahu apa yang akan di makan mereka esok hari, mereka hanya ingin tahu berapa gaji mereka bulan ini dan memikirkan apa yang akan mereka makan esok, maka ada sebuah istilah yang sering di sebutkan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal : “jika orang selalu memikirkan apa yang masuk ke dalam perutnya, maka harganya sama dengan yang keluar dari perutnya.
            Sering kita berfikir bahwa kita selalu merasa kurang dengan apa yang kita miliki, padahal tetangga di samping rumah kita jauh lebih tidak punya apapun, ketika kita mempunyai dua orang tua, apakah kita pernah berpikir bagaimana perasaan anak yatim, betapa mereka sangat merindukan kasih sayang orang tua, tapi kita yang mempunyai orang tua malahan durhaka kepada mereka.
            Jika saja kita mau merenungkan sejenak apa yang telah di berikan Allah, maka kita tidak akan dapat menghitungnya,mulai dari kita bangun tidur sampai dengan tidur kembali semuanya adalah anugrah dari-Nya, tapi bersyukur atas anugrah belumlah cukup kita juga harus belajar bagaimana mensyukuri musibah,karena disana ada rencana hebat Allah bagi kita,tapi bagaimana kita dapat mensyukuri musibah jika untuk mensyukuri anugrah saja kita belum pernah, ada sebuah kata mutiara yang mengajak kita untuk berysukur atas anugrah dan musibah dari-Nya:

Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang di inginkan
Jika engkau memiliki semuanya,apalagi yang hendak di cari?

Bersyukurlah saat engkau tidak mengetahui sesuatu
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar

Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi
Karena di sana ada kesempatan mengembangkan diri

Bersyukurlah atas keterbatasan yang engkau miliki
Karena hal itu memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri

Bersyukurlah atas setiap tantangan baru
Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu

Bersyukurlah atas kesalahan yang kini kau sadari telah terbuat
Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga



Bersyukkurlah ketika engkau lelah dan bosan
Karena berarti engkau telah berbuat sesuatu yang berarti



Mudah mensyukuri hal-hal yang baik
Namun kehidupan yang bermakna
Dinikmati mereka yang juga bersyukur atas kesulitan

Rasa syukur dapat mengubah hal negatif menjadi positif
Berusaha mensyukuri kesulitan yang engkau hadapi
Sehingga kesulitan itu manjadi berkah bagimu.

Kata-kata tersebut membuat kita begitu malu di hadapan-Nya, dengan segala yang telah kita miliki  kita masih merasa kekurangan dan tidak ada rasa bersyukur atas anugrah yang telah di berikan-Nya, kemudian bagaimana kita dapat mensyukuri musibah yang di berika, kita  lebih sering mengeluh ketika mendapat cobaan bahkan menyalahkan Tuhan atas musibah tersebut ‘Na’udzu billah min dzalik’, kita tidak sadar jika Allah cinta kepada kita maka kita di uji oleh-Nya untuk mengetahui apakah kita juga cinta kapada-Nya.
            ‘Mashoibu qoumin i’nda qoumin fawaidu’ musibah suatu kaum adalah faedah bagi kaum yang lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa musibah hanylah musibah tidak ada manfaatnya sama sekali karena dalam musibah tersebut Allah memerintahkan kita untuk bermuhasabah dan bertafakur apa yang telah kita perbuat sehingga diberikan teguran seperti ini,apakah kita telah melanggar syariat Allah?, kita terus bermuhasabah dan bertafakur dengan meminta ampunannya,semoga Allah yang Maha Pengampun sudi memafkan kita atas segala dosa yang terbuat.
            Telah banyak ayat yang memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya,sekarang apakah kita mau melakukannya dengan semua keterangan yang telah ada,اللهم نور قلولبنا بنور هدايتك كما نورت الارض بنورشمسك وقمرك يا ارحم الراحمين  . Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk-Nya Amin...
           
           

Sabtu, 04 Juni 2011

Agama Dan Kebudayaan Dalam Islam



 
A)                Pendahuluan
Islam memberikan posisi tertinggi bagi agama melebihi akal. Penghargaan itu begitu tinggi sehingga tidak jarang akal harus kalah dalam menentukan suatu hal yang di inginkan oleh akal akan tetapi tidak di perbolehkan oleh agama. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman, agama menjadi sesuatu yang di abaikan oleh sebagian masyarakat yang tidak menginginkan terkekang oleh aturan agama, bebas dari segala aturan yang mengikat dalam agama bahkan menganggap bahwa agama tidak dibutuhkan lagi pada era modern ini. Lebih dari pada itu beberapa orang yang menamakan diri sebagai ilmuan, peneliti atau yang lain sebagainya mengatakan bahwa agama adalah produk dari kebudayaan .

B)                Definisi
Agama secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya serta mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.[1]
Kemudian kata “kebudayaan” menurut bahasa berasal dari kata “budh”(bahasa Sansakerta) yang berarti “akal”. Kemudian dari kata “budh” itu berubah menjadi “budhi” dan jamaknya “budhaya” selanjutnya menjadi kata “kebudayaan”lantaran di indonesiakan dengan mendapat awalan “ke” dan “an”. Dalam bahasa arab kata “kebudayaan” itu disebut dengan “ats- Tsaqofah” yaitu mashdar dari “tsaqifa-yatsqofu” yang artinya pendidikan,pengajaran atau penajaman. Salain kata “Tsaqofah” dalam bahasa arab yang diartikan  dengan kebudayaan terdapat juga kata “At-Tamaddud” dan “Al-Hadloroh”, kemudian dalam bahasa inggris disebut “culture” dan dalam bahasa belanda “cultruur” dan dalam bahasa latin “cultura”.[2]
Setelah menegetahui arti “kebudayaan” menurut bahasa, maka terdapat berbagai pengertian mengenai “kebudayaan”, tapi disini hanya akan disebut sebagian definisi dari beberapa tokoh penting, yaitu:
1.                  Dr. Ir. Soekarno berkata “kebuyaan adalah ciptaan hidup yang timbul daripada manusia”
2.                  Dr. Muhammad Hatta mengatakan “kebudayaan adalah ciptaan hidup daripada suatu bangsa
3.                  Ki Sarmidi Mangunsarkoro mengatakan “yang disebut kebuyaan adalah segala sesuatu yang merupakan (bersifat) hasil dari kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya”
4.                  Prof. Mr. Sutan Takdir Alisyahbana (ahli bahasa indonesia) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : “kebudayaan ialah penjelmaan cara berpikir dari sekumpulan manusia pada satu tempat dan satu ruang.[3]
Sebenarnya masih banyak sekali definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh para ahli peminat kebudayaan, akan tetapi dari beberapa definisi yang dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa definisi kebudayaan adalah “ kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan daripada kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.

C)    Pembahasan

                  Agama
                     Secara lebih khusus, dengan melihat masalah –masalah yang menjadi jangkauan agama, maka agama juga dapat diartikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi respon terhadap sesuatu yang dirasakan dan diyakini sebagai sesuatu yang gaib dan suci.
                  Agama dibedakan dari isme-isme yang lainnya karena ajaran-ajaran  agama selalu bersumber pada wahyu yang berisikan petunjuk dari Tuhan atau wangsit (dalam agama-agama primitif dan lokal) dan diturunkan kepada Nabi atau “pesuruh-Nya”. Melalui nabi ajaran tersebut di ajarkan kepada sahabat-sahabatnya yang merupakan kelompok pertama sebagai penganut agama tersebut. Dalam agama samawi dan agama-agama besar lainnya, agama yang diturukan melalui wahyu tersebut dibukukan menjadi kitab suci, Dan begitu pula ajaran-ajaran para nabi. Sedangkan dalam agama primitif ajaran-ajaran agama tersebut tidak dibakukan dalam bentuk tertulis tetapi dalam bentuk lisan sebagaimana terwujud dalam tradisi-tradisi dan upacara-upacara.[4]
                  Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran , mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dna petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat didunia dan di akhirat (setelah mati), yaitu sebagai manusia yang takwa kepada Tuhannya, beradab dan manusiawi yang berbeda dari cara hidup hewan dan mahluk gaib yang berdosa (jin, setan).
                  Agama sebagai sebuah sistem keyakinan dapat menjadi bagian dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan anggota masyarakat tersebut untuk berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya, atau denga kata lain sistem-sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujut sebagai simbol-simbol suci yang maknanya bersumber dari ajaran-ajaran agama yang menjadi kerangka acuannya. Dalam keadaan demikian maka, secara langsung ataupun tidak langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai pranata yang ada dalam masyarakat dipengaruhi, digerakkan dan diarahkan oleh agama yang dianutnya, dan terwujud dalam kegiatan-kegiatan para warga masyarakatnya sebagai tindakan-tindakan dan karya-karya yang diselimuti oleh simbol-simbol suci.[5]
                  Semua keyakinan agama yang diketahui, baik yang sederhana maupun yang kompleks,mempunyai satu ciri yang sama, semuanya berisikan suatu sistem penggolongan mengenai segala sesuatu baik yang nyata maupun ideal mengenai apa yang difikirkan menusia kedalam dua golongan yang saling bertentangan, yang umumnya ditandai dengan dua istilah yang berbeda yang terjemahkan menjadi Profane (duniawi) dan Sacred (konsep suci).[6]
                  Dari semua keterangan diatas, menunjukan besarnya peran agama dalam mengatur kehidupan manusia baik yang lahiriah maupun batiniah. Ini berarti manusia tidak dapat hidup tanpa mengunakan agama, apalagi melepaskan agama. Tuhan menciptakan demikian karena agama adalah kebutuhan hidup manusia seperti udara yang menjadi kebutuhan manusia setiap detik untuk hidup. lebih dari pada itu, Islam menempatkan posisi agama sebagai Fitrah  yang dimiliki setiap manusia, dalam surat Ar-Ruum ayat 30 Allah berfirman:

30.       Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],[7]

Kebudayaan
            Walaupun terdapat banyak perbedaan pendapat dalam mendefinisikan kata “ kebudayaan”, akan tetapi para ahli kebudayaan sepakat mengenai beberapa hal dalam kebudayaan, salah satunya adalah mengenai faktor-faktor yang menimbulkan kebudayaan, diantara faktor-faktornya ialah:[8]
1.      Faktor geografis dan millieu (letak daerah dan lingkungan). Misalnya: orang yang tinggal di daerah pantai biasanya mempunyai keahlian dalam menangkap ikan dan pelayaran. Sedangkan orang yang tinggal di daerah pegunungan pandai dalam bercocok tanam.
2.      Faktor bangsa atau nation. Oleh karena adannya perbedaan bangsa, maka berbeda pula dalam cara, watak, pembawaan, adat istiadat daripada masing-masing bangsa.
3.      Faktor Agama. Contoh :adanya agama Hindu dan Bhudha maka menjelmalah kuil-kuil dan wihara-wihara berikut candi-candinya. Adanya agama Kristen dan Katholik maka muncullah gereja- gereja. Demikian pula dengan adanya agama Islam maka berdirilah masjid-masjid, mushalla, dan pesantren- pesantren dan berbagai corak kebudayaan lainnya yang di ilhami oleh agama islam.
Selain faktor-faktor yang menimbulkan  kebudayaan, terdapat pula lapangan kebudayaan yang di utarakan oleh T.M. Usman el Muhammady, lapangan-lapangan kebudayaan itu ialah:[9]
a.          Falsafah : Penjelmaan dari kegiatan pemikiran manusia mencari kebenaran.
b.      Ilmu Pengetahuan : kegiatan manusia untuk mencari mengetahui alam, baik yang diluar manusia ataupun yang di dalam diri manusia
c.         Ekonomi : Penjelmaan daripada rasa mempertahankan hidup yang di susun dengan pikiran.
d.      Sosial : Penjelmaan rasa untuk melanjutkan hidup (turunan) yang disusun pikiran
e.          Politik : Penjelmaan dari pada pikiran manusia untuk membentuk kekuasaan sehingga dapar membentuk peri kehidupan dengan sebaik-baiknya
f.          Kesenian : Penjelmaan dari pada rasa keindahan
Selanjutnya, bila diperhatikan dengan seksama , maka dalam garis besarnya kebudayaan itu dapat dibagi menjadi dua bagian:
Pertama : Materil cultuur (kebudayaan kebendaan, kebudayaan jasmaniah, benda-benda kebudayaan ) yaitu hasil kerja jiwa manusia yang dapat dilihat atau diraba. Misalnya : lukisan, bangunan, pakaian,perkakas-perkakas, ukiran dan lain sebagainya.
Kedua   : Gestelijk cultuur (kebudayaan kejiwaan, kebudayaan rohaniah, kebudayaan sepirituil, pemikiran kebudayaan) yaitu hasik kerja pikiran, jiwa manusia yang tidak dapat dilihat ataupun diraba oleh manusia. Misalnya : tata cara, ilmu pengetahuan, filsafat, seni suara, dan lain sebagainya.[10]
            Seorang sarjana Barat bernama F.Ratsel (1844-1904) mempunyai teori tentang cara meluas dan berkembangnya suatu kebudayaan. Teorinya ialah bahwa perluasan dan perkenbangan suatu kebudayaan adalah karena disebabkan oleh salah satu dari dua hal berikut[11] :
  1. Migratie atau perpindahan golongan. Misalnya perpindahan orang-orang Inggris ke Amerika.
  2. Kontak atau terjalinnya suatu hubungan. Misalnya dengan terdaptnya suatu perdagangan, penjelajahan, atau peperangan dan lain.
Kalau dua kebudayaan telah bertemu maka akan terjadi beberapa kemungkinan:
  1. Akulturasi, yaitu bila unsur-unsur kebudayaan pendatang lambat laun diterima dan diolah sedemikian rupa, sehingga tidak menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
  2. Assimilasi, yaitu kebudayaan kelompok pendatang dan penerima masing-masing berubah saling menyesuaikan diri menjadi satu.
  3. Symbiotic, yaitu bentuk dari pada masing-masing kebudayaan tidak berubah, atau dengan kata lain kedua kebudayaan menjalankan kebudayaannya masing-masing.
  4. Adoptasi (bukan Adaptasi) yaitu apabila kebudayaan yang baru dapat memusnahkan budaya asli dan yang berkembang adalah kebudayaan yang baru.
Dalam Islam kebudayaan lebih dari sekedar manifestasi dari hasil kerja manusia, akan tetapi  Islam mempunyai kebudayaan sendiri yaitu kebudayaan Islam yang mempunyai arti “ penjelmaan dari jiwa seorang muslim yang didasari  dan mencerminkan ajaran Islam dan arti yang seluas-luasnya”. Islam mempunyai sumber sendiri dalam membentuk sebuah kebudayaan yang islami yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, keduanya menjadi pegangan bagi seorang muslim.
Karena Islam mempunyai sumber sendiri dalam membentuk sebuah kebudayaan, secara otomatis Islam juga mempunyai tujuan tersendiri dengan kebudayaan tersebut. Secara umun dapat dilihat dari semua bentuk kebudayaan hanya ingin menunjukan identitas suatu kaum,suku atau bangsa. Tapi lebih dari pada menunjukan pencerminan kehidupan muslim dalam kebudayaan tersebut, dalam kebudayaan islam mempunyai tujuan untuk mendapatkan “mardhatillah” pula. Dengan kata lain kebudayaan islam bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah.
Oleh karena kebudayaan islam adalah sebagian dari  kebudayaan secara keseluruhan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan kebudayaan Islam adalah identik dengan tujuan hidup manusia dan identik pula dengan tujuan muslim, yaitu : mengharap ridha Allah swt.



D)    Kesimpulan
Setelah membaca tulisan di atas maka dapat di simpulkan bahwa agama bukanlah produk budaya yang selama ini diprakarsai oleh orang –orang barat untuk menghilangkan kesakralan agama yang menjadi panduan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Dan untuk lebih jelasnya lagi, agama dapat di bagi menjadi dua yaitu, atau agama “ardhi” atau “wadh’i” (agama ciptaan manusia), dalam hal agama ini boleh jadi agama sebagi produk dari kebudayaan. Tetapi kalau yang dimaksud adalah agama “samawi”( seperti Islam) , maka hal it tidak dapat dibenarkan. Sebab agama “samawi” bukanlah produk budaya atau hasil berpikir dan cara merasa manusia. Melainkan ajaran dari Allah yang di bawa oleh Rasul untuk keselamatan dan kebahagian manusia.


        Reference:
Ø  Idris. Taufik H, Mengenal Kebudayaan Islam, Surabaya, PT.Bina Ilmu 1983.
Ø  Robertson. Roland, Agama: Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologi, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada 1995.
Ø  Al-Qur’an








[1] Robeston.Roland, Agama: Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologi,(Jakarta: PT Raja Grafindo 1995), hal 1
[2] Idris.Taufiq H, Mengenal Kebudayaan Islam,(Surabaya:Bina Ilmu 1983), hal 11
[3] Ibid, hal 12
[4] Op.cit. hal 3
[5] Op.cit. hal 4
[6] Op.cit. hal 7
[7] Al-qur’an Ar-Ruum: 30
[8] Ibid. Hal 13
[9] Ibid. 14
[10] Ibid. 15
[11] Ibid. 18

Minggu, 29 Mei 2011

SEJARAH KLENTENG SAM POO KONG





SEMARANG- Keragaman budaya, kepercayaan dan etnis yang dimiliki Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai pulau telah menjadikannya sebagai Negara yang multi budaya, hal itu dapat di lihat dari berbagai macam kebudayaan yang muncul mulai dari ujung Sabang hingga Merauke.
Selain dari segi budaya, agama dan aliran kepercayaan di Indonesia juga mempunyai keragaman dimana tiap-tiapnya membunyi perbedaan dari sudut cara beribadah hingga tempat beribadatannya. Agama-agama yang telah diakui keberadaannya di Indonesia diantaranya adalah; Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan Kong Hu Chu.
Tiap-tiap agama telah mempunyai tempat-tempat peribadatan tersendiri, yang digunakan sebagai tempat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, diantaranya adalah Kong Hu Chu dengan Klenteng sebagai tempat Peribatannya .
Klenteng sebagai tempat peribadatan Umat Kong Hu Chu telah tersebar di berbagai kota dengan berbagai nama, salah satunya adalah Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di jalan Simonga, Semarang.
Klenteng Cheng Ho atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong, yang dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 5 hektar telah menjadi kebanggaan dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat Semarang pada umumnya, dan secara khusus bagi etnis Cina yang beragama Kong Hu Chu. Klenteng ini didirikan pada abad ke-17 atau lebih tepatnya tahun 1724 oleh etnis Cina yang berada di Semarang. Pembangunan Klenteng ini di maksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada laksamana Cheng Ho yang dianggap warga Cina-Semarang sebagai nenek moyang.
Sejarah berdirinya Klenteng Sam Poo Kong sebenarnya cukup controversial, hal ini dikarenakan Cheng Ho sendiri adalah seorang laksamana Dinasti Ming yang beragama Islam, bahkan dalam beberapa versi sejarah, Dinasti Ming disebut sebagai Dinasti Islam terbesar di Cina yang pada masa itu bernama Yunan. Sejarah juga menyebutkan bahwa Laksamana Cheng Ho adalah seorang penjelajah ulung, yang telah menggarungi berbagai samudra. Dan di Nusantara sendiri, atau yang lebih dikenal dengan Jawa Dwipa ( Pulau Jawa), Cheng Ho telah melakukan dua kali ekspedisi dengan tujuan untuk hubungan bilateral, kebudayaan, dan perekonomian dengan raja-raja Jawa kala itu, yaitu pada tahun 1405 dan 1416. Pada ekspedisi keduanya 1416, armada Cheng Ho mengalami bencana akibat terjangan badai ombak di pulau Jawa sehingga dia terdampar di daerah Simonga yang sekarang dijadikan nama jalan menuju Klenteng.
Selain sebagai tempat peribadatan, Klenteng Sam Poo Kong juga di gunakan sebagai tempat periwisata, arsitektur Cina yang kental dengan balutan warna merah sebagai lambang keberuntungan, telah memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat selain etnis Cina.
Sam Poo Kong sendiri adalah gelar yang diberikan warga Cina-Semarang  kepada Laksamana Cheng Ho atas jasa-jasanya, selain Sam Poo Kong, beberapa gelar yang sematkan kepada Cheng Ho adalah; Sam Poo Thai Jin ( Laksamana), Sam Poo Thai Kang (Kasir), dan Sam Poo Thai Rin ( Pembesar).
Selain pemberian gelar kepada Laksamana Cheng Ho, umat Kong Hu Chu juga menggelar upacara tahunan untuk menggenang kedatanggan Cheng Ho di Semarang, yaitu pada bulan Lak Gwe Jhi Koo atau antara bulan Juni- Agustus dalam penanggalan masehi. Selain upacara tahunan yang ditujukan kepada Cheng Ho, mereka juga menggadakan upacara pada Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon untuk menghormati Juri Mudi Kapal yaitu Wan Cing Hong.
Klenteng Sam Poo Kong memiliki beberapa tempat dan peninggalan yang dianggap suci, bahkan dalam mitosnya disebut mempunyai kekuatan, sebagian di gunakan untuk pemujaan dan sebagian lain hanya untuk koleksi peninggalan, diantara tempat yang di gunakan untuk peribadatan adalah tempat Dewa Bumi yang mempunyai beberapa nama seperti; Hok Tek Chen Sing, Boo Tek Cheng Seng dan Ta Pei Kong. Selain itu juga terdapat makam Juri Mudi Kapal yaitu Wang Cing Hong. Gua Suci Sam Poo Kong yang konon di gunakan Cheng Ho untuk beristirahat, dimana di dalamnya terdapat sumur untuk berwudlu Cheng Ho sebelum berdo’a. Makam juru masak kapal yaitu Kyai dan Nyai Tumpeng, sehingga muncul dalam tradisi Jawa dengan istilah Tumpengan atau upacara dengan menggunakan nasi tumpeng. Selain itu juga terdapat Arwah Hoo Ping ( rumah arwah), tempat ini digunakan untuk menggirimkan Holo kepada arwah yaitu mobil kertas, kapal kertas, uang kertas dan lain sebagainya dengan tujuan hadiah kepada arwah dengan cara membakarnya. Kemudian juga terdapat Kyai Jangkar ( Peniggalan dari kapal Cheng Ho) dan patung nabi Kong Hu Chu yang di percaya sebagai seorang filosof.
Sedangkan untuk tahun ini sendiri pihak pengurus Klenteng sedang di sibukan dalam penyambutan kedatangan patung terbesar Cheng Ho di Indonesia, yang di perkirakan akan tiba antara bula  Juni-Juli, yang akan digunakan sebagai peringatan kedatangan Cheng Ho di Semarang. Hal itu dapat dilihat dari berbagai renovasi dan pembangunan beberapa patung di Klenteng tersebut.