Penayangan bulan lalu

MENYATUKAN ISLAM DALAM PERBEDAAN

Minggu, 29 Mei 2011

SEJARAH KLENTENG SAM POO KONG





SEMARANG- Keragaman budaya, kepercayaan dan etnis yang dimiliki Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai pulau telah menjadikannya sebagai Negara yang multi budaya, hal itu dapat di lihat dari berbagai macam kebudayaan yang muncul mulai dari ujung Sabang hingga Merauke.
Selain dari segi budaya, agama dan aliran kepercayaan di Indonesia juga mempunyai keragaman dimana tiap-tiapnya membunyi perbedaan dari sudut cara beribadah hingga tempat beribadatannya. Agama-agama yang telah diakui keberadaannya di Indonesia diantaranya adalah; Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan Kong Hu Chu.
Tiap-tiap agama telah mempunyai tempat-tempat peribadatan tersendiri, yang digunakan sebagai tempat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, diantaranya adalah Kong Hu Chu dengan Klenteng sebagai tempat Peribatannya .
Klenteng sebagai tempat peribadatan Umat Kong Hu Chu telah tersebar di berbagai kota dengan berbagai nama, salah satunya adalah Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di jalan Simonga, Semarang.
Klenteng Cheng Ho atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong, yang dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 5 hektar telah menjadi kebanggaan dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat Semarang pada umumnya, dan secara khusus bagi etnis Cina yang beragama Kong Hu Chu. Klenteng ini didirikan pada abad ke-17 atau lebih tepatnya tahun 1724 oleh etnis Cina yang berada di Semarang. Pembangunan Klenteng ini di maksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada laksamana Cheng Ho yang dianggap warga Cina-Semarang sebagai nenek moyang.
Sejarah berdirinya Klenteng Sam Poo Kong sebenarnya cukup controversial, hal ini dikarenakan Cheng Ho sendiri adalah seorang laksamana Dinasti Ming yang beragama Islam, bahkan dalam beberapa versi sejarah, Dinasti Ming disebut sebagai Dinasti Islam terbesar di Cina yang pada masa itu bernama Yunan. Sejarah juga menyebutkan bahwa Laksamana Cheng Ho adalah seorang penjelajah ulung, yang telah menggarungi berbagai samudra. Dan di Nusantara sendiri, atau yang lebih dikenal dengan Jawa Dwipa ( Pulau Jawa), Cheng Ho telah melakukan dua kali ekspedisi dengan tujuan untuk hubungan bilateral, kebudayaan, dan perekonomian dengan raja-raja Jawa kala itu, yaitu pada tahun 1405 dan 1416. Pada ekspedisi keduanya 1416, armada Cheng Ho mengalami bencana akibat terjangan badai ombak di pulau Jawa sehingga dia terdampar di daerah Simonga yang sekarang dijadikan nama jalan menuju Klenteng.
Selain sebagai tempat peribadatan, Klenteng Sam Poo Kong juga di gunakan sebagai tempat periwisata, arsitektur Cina yang kental dengan balutan warna merah sebagai lambang keberuntungan, telah memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat selain etnis Cina.
Sam Poo Kong sendiri adalah gelar yang diberikan warga Cina-Semarang  kepada Laksamana Cheng Ho atas jasa-jasanya, selain Sam Poo Kong, beberapa gelar yang sematkan kepada Cheng Ho adalah; Sam Poo Thai Jin ( Laksamana), Sam Poo Thai Kang (Kasir), dan Sam Poo Thai Rin ( Pembesar).
Selain pemberian gelar kepada Laksamana Cheng Ho, umat Kong Hu Chu juga menggelar upacara tahunan untuk menggenang kedatanggan Cheng Ho di Semarang, yaitu pada bulan Lak Gwe Jhi Koo atau antara bulan Juni- Agustus dalam penanggalan masehi. Selain upacara tahunan yang ditujukan kepada Cheng Ho, mereka juga menggadakan upacara pada Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon untuk menghormati Juri Mudi Kapal yaitu Wan Cing Hong.
Klenteng Sam Poo Kong memiliki beberapa tempat dan peninggalan yang dianggap suci, bahkan dalam mitosnya disebut mempunyai kekuatan, sebagian di gunakan untuk pemujaan dan sebagian lain hanya untuk koleksi peninggalan, diantara tempat yang di gunakan untuk peribadatan adalah tempat Dewa Bumi yang mempunyai beberapa nama seperti; Hok Tek Chen Sing, Boo Tek Cheng Seng dan Ta Pei Kong. Selain itu juga terdapat makam Juri Mudi Kapal yaitu Wang Cing Hong. Gua Suci Sam Poo Kong yang konon di gunakan Cheng Ho untuk beristirahat, dimana di dalamnya terdapat sumur untuk berwudlu Cheng Ho sebelum berdo’a. Makam juru masak kapal yaitu Kyai dan Nyai Tumpeng, sehingga muncul dalam tradisi Jawa dengan istilah Tumpengan atau upacara dengan menggunakan nasi tumpeng. Selain itu juga terdapat Arwah Hoo Ping ( rumah arwah), tempat ini digunakan untuk menggirimkan Holo kepada arwah yaitu mobil kertas, kapal kertas, uang kertas dan lain sebagainya dengan tujuan hadiah kepada arwah dengan cara membakarnya. Kemudian juga terdapat Kyai Jangkar ( Peniggalan dari kapal Cheng Ho) dan patung nabi Kong Hu Chu yang di percaya sebagai seorang filosof.
Sedangkan untuk tahun ini sendiri pihak pengurus Klenteng sedang di sibukan dalam penyambutan kedatangan patung terbesar Cheng Ho di Indonesia, yang di perkirakan akan tiba antara bula  Juni-Juli, yang akan digunakan sebagai peringatan kedatangan Cheng Ho di Semarang. Hal itu dapat dilihat dari berbagai renovasi dan pembangunan beberapa patung di Klenteng tersebut.


0 komentar:

Poskan Komentar